Pemahaman Kebahagiaan oleh Remaja Broken Home

Authors

  • Siti Khusnul Faizah IAIRM Ngabar Ponorogo
  • Muhammad Syukur Hidayatulloh Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin
  • Ade Muhammad Rafli Institut Agama Islam Riyadlotul Mujahidin

DOI:

https://doi.org/10.55380/taqorrub.v3i1.188

Keywords:

happiness, divorce, teenager, qualitative research

Abstract

Abstract

 

Happiness is the expectation for every person including teenager. Study explaining that a broken home is a condition when the family is no longer intact. Family disorganization can be due to divorce, the death of one of the parents or problems that are not resolved properly. It could even be because of a third person in household matters, such as parents, in-laws, or the presence of another ideal woman or man. However, parental divorce may have impact on teenagers’ happiness. The aim of this study is to know happiness in teenager whose parents divorced. Data for this research were obtained using qualitative method with case study design. Subject was selected using purposive sampling technique. The respondent was a male teenager with divorced parents. Data collection was carried out through interview. The results showed that the respondent had three aspects of happiness are life is pleasant, meaningful, and engaging.

References

Daftar Pustaka
Amato, P. R. & Sobolewski, J. M. (2001). The effects of divorce and marital discord on adult children’s psychological well-being. American Sociological Review, 66(6), 900-921.
Aminah, Andayani, T. R., & Karyanta, N. A. (2012). Proses penerimaan anak (remaja akhir) terhadap perceraian orang tua dan konsekuensi psikososial yang menyertainya. Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, 1(3).
Astuti, Y., Rachmah, N., & Anganthi, N. (2016). Subjective well-being pada remaja keluarga broken home. Jurnal Penelitian Humaniora, 17(2), 161-175.
Aziz, M. (2015). Perilaku sosial anak remaja korban broken home dalam berbagai perspektif. Jurnal Al-Ijtimaiyyah, 1(1), 30-50.
Creswell, J. W. (2010). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Diener, E. & Ryan, K. (2009). Subjective well being: A general overview. South African Journal of Psychology. 39(4), 391-406.
Elfida, D., Lestari, Y. I., Diamera, A., Angraeni, R., & Islami, S. (2014). Hubungan baik dengan orang yang signifikan dan kontribusinya terhadap kebahagiaan remaja Indonesia. Jurnal Psikologi. 10(2), 66-73.
Giyati & Wardani, I. R. K. (2016). Ciri-ciri kepribadian dan kepatutan sosial sebagai prediktor subjective well-being (kesejahteraan subyektif) pada remaja akhir. Analitika, 8(1), 10-24.
Hetherington, E. M., Cox, M., & Cox, R. (1985). Long term effect of divorce and remarriage on the adjustment of children. Journal of the American Academy of Child Psychiatry, 24(5), 518-530.
Hurlock, E. B. (2009). Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Kartono, K. (2010). Psikologi wanita jilid 2, Mengenal wanita sebagai ibu dan nenek. Bandung: Mandar Maju.
Maramis W. F. (2000). Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Maryanti. (2007). Keluarga bercerai dan intensitas interaksi anak terhadap orang tuanya. Jurnal Harmoni Sosial, 1(2).
Moleong, L. J. (2013). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ningrum, P. R. (2013). Perceraian orang tua dan penyesuaian diri remaja. E-Journal Psikologi. 1(1), 69-79.
Novi (2015). Remaja korban perceraian. Diakses pada tanggal 23 Mei 2017
Dari http://www.kompasiana.com/novi/remaja-korban perceraian_54ff0e52a33311471c50f9a1
Poerwandari, E. K. (2007). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Primasti, K. A. & Wrastari, A. T. (2013). Dinamika psychological well-being pada remaja yang mengalami
perceraian orang tua ditinjau dari family conflict yang dialami. Jurnal Universitas Airlangga, 2(3), 120-127.
Prodjohamidjojo, M. (2002). Hukum perkawinan Indonesia. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Satori, D. & Komariah, A. (2011). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Seligman, M. E. P. (2006). Authentic happiness. Bandung: Mizan Media Utama.
Seligman, M. E. P. (2002). Authentic happiness: Using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfillment. New York: The Free Press.
Subekti. (1985). Hukum perjanjian. Jakarta: Intermasa.
Syarifuddin, A. (2006). Hukum perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Downloads

Published

2022-06-18

Issue

Section

Article